Publikasi Media

Berita
Arsip Berita
Tulisan

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Random Photo

Syndicate

Beranda
Evaluasi Manajemen Konflik Sulteng! PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh iyan   
Rabu, 23 November 2011

Mercusuar, 11 November 2011
Evaluasi Manajemen Konflik Sulteng!

Pekan ini, bentrok antarkampung terjadi ditiga lokasi berbeda, satu di Kabupaten Donggala, satu di Kabupaten Sigi dan satu lagi di kota Palu. Terjadinya bentrokan beruntun ini membuktikan bahwa manajemen konflik di daerah ini tidak maksimal.
    OLEH : TIM MERCUSUAR
    Pendidikan agama yang termajinalkan serta ditopang minimnya sumber daya manusia dan sulitnya pemenuhan kebutuhan ekonomi, membuat masyarakat mudah tergerak untuk saling sikat. Gotongroyong (solidaritas) dalam aspek negatif begitu tinggi, sementara gotongroyong membangun daerah terkikis modernisasi.
    Beberapa faktor inilah yang menyebabkan rasa tolenransi dan tenggang rasa antar masyarakat memudar. Bahkan yang lebih parah, konflik antar masyarakat ini bukan yang berbeda, melainkan masyarakat yang satu bahasa dan bersaudara.

    Seperti yang terjadi Jumat  dini hari (11/11). Masyarakat Tavanjuka dan Tatanga yang notabene hidup dan menetap di satu kelurahan saling lempar batu. Konflik antar dua masyarakat ini kerap ‘putus – sambung’. Hari ini ‘perang’ besok damai. Sebulan kemudian ‘perang’ lagi, besoknya damai lagi. Hal sekecil apapun yang terjadi, selalu berdampak dan menimbulkan reaksi besar.
    Dimana peran pemerintah dan kepolisian? Peran mereka sangat kecil. Pertama yang perlu digarisbawahi adalah termarjinalkan pendidikan Agama. Disinilah letak utamanya. Anda bisa melihat bagaimana pendidkan agama dijadikan sebagai nomor dua,dengan pemberian kurikulum yang jauh sangat sedikit dengan pelajaran lainnya. Padahal, agama adalah rem manusia ketika hendak melakukan hal-hal negatif.
    Kedua, masuknya budaya-budaya asing yang tidak ditopang dengan filter yang baik, menjadikan hidup masyarakat modern. Akibatnya, antar masyarakat satu dengan masyarakat satu dengan masyarakat lain sudah tidak peka. Kebanyakan mereka memetingkan hidup dirinya sendiri, lalu mengabaikan hidup orang lain, meskipun itu sanak famili atau tetangganya. Lagi-lagi, peranan pemerintah di sini sangat kecil untuk mengembalikan itu. Padahal dulu, indonesia adalah Macan Asia karena kegotongroyongnya.
    Disisi lain, keulitan dalam pemenuhan kebutuhan membuat masyarakat menjadi brutal. Ketidaktersediaan lapangan kerja, kesempatan kerja serta ketimpangan sosial membuat mereka merasa termarjinalkan. Baru ketika konflik, mereka lalau diperhatikan.
    Begitu pula dengan peran kepolisian. Institusi penegak hukum ini ibarat pemadam kebakaran. Baru bergerak ketika masyarakat telah bertikai. Personel-personel intel juga belum bisa berbuat banyak, dan melakukan pencegahan awal konflik tersebut. Semuanya baru kebingungan dan kerepotan, setelah warga bertikai menjadi korban peluru oknum polisi. Bankamdes yang di dengung-dengung Kapolda nyatanya juga belum terlihat memuaskan. Pada umumnya, Bankamdes hanya seremonial atau asal Bapak senang (ABS). Faktanya, forum-forum masyarakat  jarang  melakukan pertemuan, apalagi memutuskan sebuah kebijakan.
    Tentu saja, hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah, entah apalah namanya, bersama kepolisian sehingga pemuka agama tidak bersama merumuskan hal ini. Prediksinya, bila pendidikan agama, pendidikan pancasila dan ketimpangan sosial masih ‘melanda’, maka bibit konflik ini tak akan hilang. Malah, bisa menimbulkan konflik yang lebih besar dan berkepenjangan.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >