Publikasi Media

Berita
Arsip Berita
Tulisan

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Random Photo

Syndicate

Beranda
Warga Tavanjuka Sepakat Berdamai
Penilaian Pengguna: / 0
Ditulis Oleh iyan   
Rabu, 23 November 2011
Mercusuar, 11 November 2011
Warga Tavanjuka Sepakat Berdamai

Palu- Dua kelompok warga yang terlibat bentrokan kamis malam (10/11) lalu di kelurahan Tavanjuka, sepakat berdamai. Kesepakatan damai dua kelompok warga yang masih satu kelurahan itu, digelar di kantor Camat Palu Selatan Jumat sore kemarin (11/11).
   Kelompok warga yang diwakili tokoh masyarakat, tokoh adat, serta tokoh pemuda di kelurahan itu, sepakat untuk berdamai dan mengakhiri bentrokan antar warga. Semuanya juga sepakat meminta agar proses penegakan hukum terhadap pelaku yang telah mengakibatkan korban jiwa agar diusut tuntas.
  Chandra, salah satu tokoh pemuda kelurahan Tavanjuka, dalam pertemuan yang di lakukan kemarin, mengungkapkan bahwa betrokan yang terjadi antara warga di kelurahan Tavanjuka tersebut, merupakan akumulasi dari sejumlah kejadian penganiayaan yang dilakukan oknum warga terhadap warga lain, namun tidak diproses hukum.
  “Bukan hanya yang terjadi kemarin malam  (10/11), beberapa kali terjadi pembacokan yang di lakukan oleh oknum warga terhadap warga lain, tapi tidak ditindak secara hukum. Bahkan pelakunya dengan bebas kesana kemari. Sehingga inilah yang membuat warga yang menjadi korban bahkan keluarganya menjadi mudah tersulut kalau terjadi masalah di kelurahan kami.” Sebut tokoh pemuda bernama Chandra itu.
   Menanggapi pertanyaan tersebut, Kapolres Palu AKB Ahmad Ramadhan yang juga hadir dalam pertemuan damai kemarin, mengaku akan menindaklanjuti keluhan warga itu, dengan meminta bantuan masyarakat untuk membantu pihak kepolisian, mencari pelaku-pelaku penganiayaan yang selama ini masih berkeliaran.
   “Walaupun kasus itu telah bertahun-tahun, kalau masyarakat mempunyai bukti yang cukup, kami akan tindaklanjuti itu,” kata Kapolres.
Selengkapnya...
 
Evaluasi Manajemen Konflik Sulteng!
Penilaian Pengguna: / 0
Ditulis Oleh iyan   
Rabu, 23 November 2011

Mercusuar, 11 November 2011
Evaluasi Manajemen Konflik Sulteng!

Pekan ini, bentrok antarkampung terjadi ditiga lokasi berbeda, satu di Kabupaten Donggala, satu di Kabupaten Sigi dan satu lagi di kota Palu. Terjadinya bentrokan beruntun ini membuktikan bahwa manajemen konflik di daerah ini tidak maksimal.
    OLEH : TIM MERCUSUAR
    Pendidikan agama yang termajinalkan serta ditopang minimnya sumber daya manusia dan sulitnya pemenuhan kebutuhan ekonomi, membuat masyarakat mudah tergerak untuk saling sikat. Gotongroyong (solidaritas) dalam aspek negatif begitu tinggi, sementara gotongroyong membangun daerah terkikis modernisasi.
    Beberapa faktor inilah yang menyebabkan rasa tolenransi dan tenggang rasa antar masyarakat memudar. Bahkan yang lebih parah, konflik antar masyarakat ini bukan yang berbeda, melainkan masyarakat yang satu bahasa dan bersaudara.

Selengkapnya...
 
RIJALI DJAELANGKARA Konflik Sigi Bersifat Bawaan
Penilaian Pengguna: / 0
Ditulis Oleh iyan   
Rabu, 23 November 2011

Mercusuar, 10 Oktober 2011

RIJALI DJAELANGKARA
Konflik Sigi Bersifat Bawaan


Pertikaian antar desa yang acapkali melanda wilayah Kabupaten Sigi, membuat Gubernur Sulawesih Tengah turun tangan. Awal pekan ini, gubernur mengumpul para pemangku di kabupaten Sigi, termasuk para tokoh dan kades dari 15 desa yang memiliki catatan konflik dengan desa tetangga.
Pandangan peserta rapat, sedikit-banyaknya telah menyibak tabir pemicuh konflik di kabupaten Sigi. Peredaran minuman keras, masalah agraria,persoalan komunikasi, mudahnya warga terhasut, lemahnya penegak hukum, menjadi penyumbang konflik  di Sigi. Penprov Sulteng akhirnya membentuk tim terpadu untuk membantu Pemkab Sigi menyelesaikan akar masalah.
Lalu seperti apa tokoh mudah Sigi yang juga akademisi, Rizali Djaelangkara menelaah  konflik yang terjadi di Sigi belakangan ini.  Jumat kemarin, tokoh pemekaran Kabupaten Sigi menerima Yusuf Sagoba dari Media Alkhairat di kediamannya. Berikut petikan wawancaranya :
Bagaimana anda melihat konflik yang terjadi di Sigi belakangan ini  ?
    Konflik di Sigi akhir-akhir ini bukan pertama kali terjadi sebab sebelum Sigi terbentuk menjadi daerah otonom terpisah dari induknya Kabupaten Donggala. Pertikaian sudah terjadi sejak lama dan bersifat “bawaan”, bukan karena pemekaran. Justru  dengan terbentuknya Kabupaten Sigi persoalan Konflik lebih cepat terselesaikan.
    Pertikaian dikarenakan dari berbagai soal, seperti sengketa tanah, kenakalan remaja, antar komunitas yang saling mengejek, diakibatkan minuman keras, sampai soal perbatasan wilayah.
Menurut  anda,  sebesar apa potensi dan kerentanan, konflik di Kabupaten Sigi ?  
    Setidaknya ada empat potensi dan kerantanan konflik di Sigi, yakni tingkat heterogenitas masyarakat yang tinggi sebab terdiri dari 17 macam etnis dengan 13 sub-etnis kaili, serta karakter penduduk yang dibedakan oleh kondisi  lembah, lereng dan pegunungan. Kemudian adanya sejarah pernah terjadi konflik-konflik lintas komunal pada masa lalu; disparitas tingkat perkembangan pembangunan dan kesejahteraan antar daerah masih cukup tinggi. Selanjutnya kondisi geografis yang cukup luas dan topografis daerah pegunungan dan orbitasi kawasan pemukiman yang  masih tinggi tingkat keterpancarannya dari aspek jarak dan waktu tempuh, serta prasarana transportasi yang belum memadai sangat mendorong ekslusifitas dan sentimen kawasan karena jaringan komunikasi yang sulit dilakukan.
Lalu apa yang terjadi akar masalah sehinggah konflik selalu berulang ?
    Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya pertikaian tersebut. Sumber utamanya disebabkan oleh persoalan identitas dan sistem distribusi sosial, ekonomi dan politik yang timpang, fanatisme kelompok\wilayah yang mengalahkan nilai hubungan silahturahim insania yang berujung rasa superiotas kelompok (monopoli kebenaran) yang disusul munculnya prasangka buruk dengan pihak lain dan kebiasaan menyelesaiakan persoalan dengan budaya kekerasan.
    Wujud yang lain berupa adanya ketimpangan ekonomi\kesejeteraan antara  kelompok maupun wilayah. Hal ini akan semakin rentan manakala komunikasi\silahturahim horizontal lintas komunitas maupun vertikal antara masyarakat dan pemerintah. Adanya kebijakan pembangunan yang tidak partisipasi\tidak prorakyat dan tidak  merata, penegakan hukum yang dirasa kurang adil.  Kondisi ini merupakan rumput kering yang hanya menunggu pemicu\pemacu dan miss-contact pada arena tertentu akan mencuat menjadi konflik kekerasan.
Bagaimana dengan penyelesaian konflik selama ini?

Selengkapnya...
 
PBHR Dialogkan Mutu Pendidikan
Penilaian Pengguna: / 0
Ditulis Oleh iyan   
Senin, 07 November 2011
Mercusuar, 4 November 2011
PBHR Dialogkan Mutu Pendidikan

PALU, Mercusuar – Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat (PBHR) Sulteng bekerjasama dengan Peace Through Development (PTD) Nasional, Kamis (3/11), menggelar Konsultasi Publik tentang Ranperda Pendidikan Damai dan Multikultur di Kampoeng Nelayan, Kelurahan Talise, Kecamatan Palu Timur.
  Kegiatan tersebut bertujuan untuk menggali informasi, data dan masukan dari berbagai kelompok untuk meningkatkan kualitas dan memboboti materi naskah dan draft Rencana Peraturan Daerah (Ranperda) tentang system pendidikan berbasis multikultur di Sulteng.
Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>